Thursday, October 25, 2018

Punya Anak Yang Super Aktif Hiperaktif. Apakah Ini Jadi Masalah?


Anak super aktif yang bukan hiperaktif sejatinya lebih unggul dibandingkan anak lainnya. Keaktifannya menunjukkan bahwa anak tersebut punya potensi besar di dalam dirinya. Oleh karenanya, bunda tidak perlu khawatir ketika si kecil begitu aktif di dalam aktifitasnya.
Melihat anak sangat aktif kadang membuat bunda bahagia. Namun begitu, kadang bunda juga akan merasa sebal karena tingkahnya yang terlihat berlebihan. Contohnya adalah anak tidak bisa diam, sering bergerak sekehendak hati.
Tindakan ini juga kadang tidak disukai oleh orang lain. Anak dicap sebagai anak nakal lantaran sulit untuk ditenangkan. Malahan, anak cenderung tidak mendengarkan apa yang diperintahkan.
Meskipun begitu, anak tersebut punya nilai plus dibandingkan anak sebayanya. Ketika ditangani dan diarahkan ke sesuatu yang lebih baik, anak akan menjadi sangat pintar di dunianya. Ketika dewasa, anak punya peluang sukses lebih besar dibandingkan teman-temannya.
Sekilas Mengenal Anak Super Aktif
Anak yang super aktif punya kecenderungan suka bergerak. Anak akan memanfaatkan tenaganya untuk melakukan hal-hal yang menarik perhatiannya. Dan anak ini tidak suka banyak bicara.
Kecenderungan ini kadang membuat orang di sekelilingnya menjulukinya sebagai troublemaker. Karena anak tidak bisa diam. Anak dianggap sebagai tukang onar yang bisa mempengaruhi anak-anak lainnya.
Namun harus digarisbawahi bahwa anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Anak suka mengeksplor lebih jauh tentang apa yang dipahaminya. Buahnya, anak akan mempraktekkan apa yang dipelajarinya/apa yang menarik perhatiannya.
Anak yang super aktif ini bukanlah anak yang mengalami masalah kesehatan. Anak seperti ini hanya kelebihan energi. Kelebihan energi inilah yang ditumpahkannya dengan melakukan berbagai kegiatan.
Ciri anak super aktif adalah anak suka dengan berbagai kegiatan. Anak punya kecenderungan untuk bergerak sesuai kehendaknya. Meskipun begitu, anak tersebut punya konsentrasi tinggi sehingga mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.
Ini tentu berkebalikan dengan anak yang hiperaktif. Anak yang super aktif di lingkungannya tidak bisa dikatakan sebagai hiperaktif. Tentunya jika melihat ciri-ciri yang diperlihatkannya di atas.
Tetapi bila anak tidak memiliki konsentrasi tinggi dan cenderung aktif, ini berarti anak bunda ada di dalam tahap hiperaktif. Anak yang hiperaktif memang sangat aktif bergerak, namun anak tidak memiliki konsentrasi tinggi. Kecenderungannya adalah melakukan gerakan berulang-ulang tanpa menunjukkan maksud yang ditujunya.
Contoh prilaku anak yang hiperaktif adalah membuka dan menutup pintu berulang-ulang tanpa maksud yang jelas. Selain itu, anak memiliki kecenderungan berpindah ke permainan satu ke permainan lainnya sebelum mampu menyelesaikannya.
Berbeda jika anak hanya super aktif. Anak seperti ini bisa menyelesaikan kegiatan bermaiannya. Baru setelah menyelesaikan permainannya, anak akan mencoba sesuatu yang lain yang dianggap lebih menarik.
Cara Mengatasi Anak Super Aktif
Anak yang super aktif bisa mempelajari sesuatu dengan sangat cepat. Bunda pastinya akan bangga melihat apa yang ditunjukkan buah hatinya. Bahkan, kepandaiannya ini melebihi anak-anak seumurannya.
Supaya anak bisa memanfaatkan kelebihan tenaganya ke kegiatan positif, ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan. Ini ditujukan untuk menangani anak yang tidak suka diam di lingkungannya.
  • Buatlah aturan bersama
Sebaiknya bunda harus membuat kesepakatan dengan anaknya. Kesepakatan ini berupa aturan-aturan yang wajib dilakukan oleh anak dan keluarga. Aturan seperti inilah yang bisa menenangkannya.
  • Libatkan anak dalam berbagai kegiatan harian
Keaktifan anak ini disebabkan oleh besarnya tenaga yang dimilikinya. Besarnya tenaga jelas membuat anak bisa melakukan berbagai hal. Hanya saja, kadang anak sesuka hati dalam melakukan aktifitasnya.
Akan lebih baik jika bunda memanfaatkan tenaga besarnya untuk membantu bunda. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah akan sangat membantu. Karena tenaga yang dimilikinya akan disalurkan untuk hal-hal yang positif di rumah.
Contohnya adalah melibatkan anak dalam merapikan mainannya. Atau, mengajak anak untuk bersih-bersih rumah. Yang terpenting, kegiatan tersebut menyenangkan dan menarik perhatiannya.
  • Arahkan ke kegiatan yang lebih kreatif
Anak super aktif memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Konsentrasinya juga sangat bagus. Tak mengherankan jika anak tersebut mampu berimajinasi tinggi, dan lebih kreatif.
Anak yang seperti ini bisa tenang ketika melakukan suatu kegiatan. Bahkan, anak bisa diam sampai berjam-jam lantaran fokus pada apa yang dilakukannya. Ini berkebalikan dengan anak hiperaktif yang tidak fokus.
Bunda bisa memfasilitasi anak dengan memberinya kesempatan untuk meningkatkan kreatifitasnya. Misalnya memasukkannya ke dalam kegiatan yang disukainya.
Hal yang disukainya bisa berupa melukis, olahraga tertentu, sampai bermusik. Semua kegiatan ini bisa dicoba. Cukup arahkan tenaga ekstranya untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat untuk masa depannya.
Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Bunda Pada Anak Super Aktif
Tindakan anak yang super aktif memang kadang membuat khawatir. Ada saja yang dilakukannya. Bisa saja tindakanya ke arah yang berbahaya.
Di sini, bunda disarankan untuk tidak memarahinya. Memarahinya hanya akan membuat hati anak terluka. Tenaga yang dimilikinya bisa saja disalurkan pada hal-hal yang tidak baik.
Akan lebih baik jika bunda menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukannya kurang baik. Lantas bunda memberikan opsi kegiatan yang baik untuk dilakukan. Di sinilah anak akan patuh, tenaga ekstranya akan dimanfaatkan untuk hal yang positif.
Selain memarahi, bunda juga sebaiknya tidak banyak memberikan perintah secara verbal atau larangan. Kecenderungan anak tersebut adalah tidak mendengarkan perintah. Anak akan terfokus pada hal yang ditujunya.
Sebaliknya berikan perintah atau larangan dengan bahasa tubuh. Misalnya dengan mencontohkan pada apa yang diperintahkan/dilarang. Dari sini, anak akan menaruh perhatian, dan belajar banyak dari apa yang dicontohkan.

Itulah bagaimana cara bunda memperlakukan anak yang super aktif. Arahkan ke kegiatan yang lebih positif, dan biarkan anak super aktif menyalurkan tenaga dan fikirannya pada hal tersebut. 

Wednesday, September 26, 2018

Apakah Anak Bunda Menderita Hiperaktif?


Anak-anak ada yang terlahir kalem. Mereka puas mewarnai atau bermain dengan balok berjam-jam. Sementara anak-anak bunda tampaknya tidak bisa duudk diam sekalipun hanya dua menit. Mereka seakan-akan gelisah, lompat ke sana ke mari, mengambil barang apapun yang menarik perhatiannya secepat mungkin dan memanjat apapun yang bisa dipanjat. Orang tua mungkin langsung mencap anak-anak ini menderita hiperaktif dan buru-buru menemukan cara menghadapi anak hiperaktif. Namun mungkin ada udang di balik batu bila anak-anak bunda mendadak hiperaktif. Simak yuk penjelasannya.
  1. Stress
Kadang-kadang perubahan jadwal dalam hidup bisa membuat si kecil hiperaktif karena mereka mendapatkan pengalaman yang membuat mereka stress. Sekalipun perubahan tersebut bisa bersifat positif seperti memiliki adik baru, pindah ke lingkungan baru yang lebih baik atau memasuki masa sekolah. Perubahan-perubahan ini bisa menciptakan stress pada anak.

Selain itu, anak-anak juga bisa merasakan stress orang tua sekalipun mereka tidak kena mengalami problem finansial atau hubungan. Jadi bunda bisa mengecek kondisi stress bunda dan pasangan bila bunda melihat si kecil mendadak hiperaktif.
  1. Masalah kejiwaan
Masalah kejiwaan pada anak sering terlihat dalam bentuk kelakuan yang tidak wajar. Anak-anak yang gampang cemas cenderung kesulitan untuk duduk diam. Atau anak-anak yang trauma karena suatu kejadian menakutkan akan kesulitan untuk konsentrasi. Nah, bila bunda mencurigai karakter anak bunda yang hipersensitf berasal dari masalah kejiwaan, bunda bisa menghubungi psikolog.Pengobatan para ahli ini akan mengurangi gejala-gejalan sakitnya si kecil termasuk hiperaktif.
  1. Kesalahan Pola Makan
Sebuah penelitian menyebutkan gula bukanlah penyebab hiperaktif. Beberapa ahli percaya beberapa penyedap rasa bisa membuat anak jadi hiperaktif. Studi-studi tentang makanan juga menemukan bahan pengawet dan pewarna bisa membuat anak jadi hiperaktif.

Bila bunda berpikir pola makan anak mempengaruhi karakter anak, bunda bisa menghubungi dan konsultasi pada dokter anak. Dokter bisa memberikan cara-cara untuk menemukan ketidakcocokan dan sensitifitas anak pada makanan sehingga menyebabkan tingkah laku yang mengganggu.
  1. Masalah kesehatan
Kondisi kesehatan fisik anak juga bisa menyebabkan hiperaktif. Contoh anak yang memiliki kadar tiroid yang tinggi. Anak-anak ini cenderung menjadi anak yang gampang cemas hingga hiperaktif. Bunda bisa konsultasi ke dokter anak mengenai gejala-gejala yang bunda lihat ada pada si kecil. Bunda juga sebaiknya mencatat kejanggalan-kejanggalan yang bisa bunda sampaikan lebih lanjut
  1. Kurang berolahraga
Anak-anak harusnya aktif dan energetik. Tanpa olahraga yang cukup, mereka akan kesulitan untuk duduk diam. Sayangnya, banyak anak-anak hiperaktif dihukum dengan dicabut jam istirahatnya di sekolah. Padahal kurangnya kesempatan berlari dan bermain akan membuat kondisi hiperaktif semakin parah.

Bunda bisa membantu si kecil dengan mengarahkan dia berolahraga setiap hari. Bawalah si kecil ke lapangan atau teman dekat rumah untuk bermain bola, ayunan atau bersepeda untuk menyalrkan energinya ke kegiatan-kegiatan produktif.
  1. Terlalu capek
Bila orang tua cenderung lemas ketika mereka kecapekan, anak-anak lebih sering menjadi hiperaktif. Bunda bisa perhatikan, anak-anak yang tidak tidur siang atau telat tidur, mereka memiliki tingkah laku yang agak ajaib. Jadi bunda perlu pastikan dia tidur cukup agar dia tidak hiperaktif.

Dari informasi di atas, apakah bunda masih khawatir anak bunda hiperaktif? Bila iya, bunda bisa melakukan konsultasi ke dokter. Nah, seperti yang bunda ketahui, anak hiperaktif membutuhkan perlakukan khusus. Bunda bisa membaca artikel yang satu ini Cara Mengatasi Anak Hiperaktif agar bisa mengasuh si kecil dengan tepat. Tidak ada anak yang nakal di dunia ini, mereka hanya membutuhkan orang tua yang mengerti mereka.


Thursday, August 30, 2018

Mengubah Anak Hiperaktif menjadi Anak Kreatif

Bunda pasti menyadari kalau anak-anak hiperaktif sangat gelisah. Mereka cepat bosan dengan rutinitas dibanding anak-anak lainnya. Dan sayangnya kriteria “mudah bosan” ini seringkali tidak ditulis sebagai diagnosa mereka. Tampak negatif, namun sisi bosan pada anak-anak berarti dia sangat mudah tertarik pada hal-hal baru dan menarik. Rasa penasaran ini adalah sebuah komponen utama anak kreatif. Salah satu kemampuan yang telah membantu masyarakat berkembang. Jadi kita perlu menumbuhkannya. 

Namun bagaimana orang tua melakukannya? Inilah cara mengatasi anak hiperaktif dengan menjadikan mereka kreatif.

Seperti sebuah bola-bola energi yang tidak pernah lelah, kita perlu bertanya, kemanakah energi ini dilepaskan? Apakah energi ini disalurkan ke dalam tindakan-tindakan yang tidak sopan, gelisah atau cemas? Atau tersalurkan dalam kebiasaan-kebiasaan yang kreatif. Yuk bunda mari kita mengeluarkan sisi kreatif si kecil.

1. Bertanya pertanyaan yang menarik. Contoh: ketika bel rumah berbunyi, bunda bisa menanyakan sistem kerja bel di rumah ke si kecil. Saat belajar pelajaran di sekolah, bunda bisa menanyakan apa yang terjadi bila Indonesia tidak merdeka. Ingat ya bunda, jangan langsung memberikan jawaban, izinkan mereka menggunakan imajinasinya dan menghargai perspektif mereka.
2. Menggunakan sistem belajar dari proyek. Bunda bisa memberikan berbagai proyek spesial untuk anak. Misalkan memasak spaghetti untuk keluarga, menelusuri sejarah bulu tangkis di Indonesia, atau melakukan riset genre film kesukaan anak-anak di kelas.
3. Melakukan sesuatu yang baru dan tak terduga. Anak yang kreatif belajar dari bunda yang kreatif. Di hari Minggu, bunda bisa mengenakan kostum-kostum profesi untuk mengajarkan berbagai profesi kepada anak. Dijamin mereka bakal penasaran setiap minggunya.
4. Membawa ke rumah segala penemuan bunda. Saat bertemu dengan si kecil, bunda bisa memegang sesuatu yang baru di luar rumah seperti bulu burung, batu yang cantik, daun dan lain-lain. Setiap penemuan ini akan membantu si kecil untuk fokus. Setelah itu tanyakan ke dia, kira-kira di mana bunda mendapatkannya, bulu binatang apakah ini, jenis-jenis batu dan sebagainya. Arahkan dia untuk cari tahu lebih lanjut lewat buku atau internet yang aman untuk anak-anak.
5. Berakting. Temukan sebuah cara untuk dramatis agar membuka sisi kreatif dari anak hiperaktif. Bunda bisa berakting memerankan tokoh dalam novel si kecil atau cerita kartun kesayangannya.
6. Mengaktifkan imajinasi. Minta si kecil untuk menutup mata dan membayangkan sesuatu yang berkaitan dengan peernya. Kegiatan ini akan membuka dimensi kreatif anak. Misalkan, ajarkan mereka untuk membayangkan luar angkasa ketika belajar tentang tata surya, membayangkan suasana novel favorit mereka dan kalau bisa menggambarkannya. Segala sesuatu ini akan membantu si kecil belajar tentang konsep.

Dari semua tips ini, bunda cuman perlu mengingat untuk melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Sesuatu yang bisa menghancurkan rutinitas di rumah atau kegiatan belajar anak untuk mendapatkan perhatian mereka. Kita tidak bisa menyalahkan segala sesuatu yang cepat seperti film kartun di TV atau video game untuk mendapatkan fokus mereka sekarang. Yang paling penting adalah bunda itu “hidup” dan bisa interaktif di mana benda-benda lainnya tidak. Lagipula tv atau video game tidak tertarik untuk membuat si kecil lebih kreatif. Jadi, bundalah yang memiliki tanggung jawab untuk membuat si kecil kreatif dan membuat mereka menjadi anak yang berguna bagi masyarakat.
Sekian cara mengatasi anak hiperaktif untuk menjadikan dia anak kreatif. Semoga berguna bagi bunda.


Sunday, August 12, 2018

Hal Yang Perlu Dikhawatirkan Jika Punya Anak Hiperaktif



Apakah anak hiperaktif itu harus disembuhkan? Tentu saja. Namun, jangan dianggap ini adalah penyakit. Ini hanya perilaku yang tidak normal saja. Dan itupun bisa dijelaskan secara ilmiah.
Para ahli kesehatan anak menjelaskan bahwasannya anak yang hiperaktif itu disebabkan kelebihan energi di dalam tubuh. Dan butuh penyaluran energi dengan cara aktif. Yang terjadi adalah anak tersebut lebih aktif daripada kebanyakan anak lainnya.
Akan tetapi, ada juga faktor lain. Ini ditemukan oleh para peneliti kesehatan anak lainnya. Hingga akhirnya ada istilah ADHD yang merupakan kepanjangan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Jadi ini merupakan gangguan hiperaktif yang membuat anak sulit konsentrasi. Makanya, gangguan ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Banyak faktor yang mempengaruhi.
Hal Negatif Yang Sering Terjadi Pada Anak Hiperaktif
Sebenarnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika ada anak yang hiperaktif. Hanya saja, karena ia beda dengan kebanyakan teman lainnya, biasanya anak tersebut mengalami masalah dalam hal pergaulan.
  1. Tidak Mau Mengalah
Dalam berinteraksi sosial dengan teman-teman yang lain, anak harus toleran. Makanya, bunda sebagai orang tua harus memberikan pelajaran mengenai toleransi. Jangan mudah marah dengan teman yang lain. Biarkan anak lain berbuat apapun asalkan anak tidak boleh mengganggu. Berbeda dengan anak lain boleh tapi tidak boleh menyakiti. Itulah sikap toleran.

Sayangnya, anak yang hiperaktif yang hiperaktif sulit sekali untuk toleran. Saat bermain, ia ingin selalu menang. Anak tersebut cenderung egois. Dan ini menjadi satu dari sekian banyak tanda-tanda anak hiperaktif.

Karena anak tidak mau mengalah, bisa saja teman-teman tidak suka. Sehingga akhirnya mereka tidak mau berteman dengan anak tersebut. Ini yang berbahaya. Karena jika ini terus terjadi, bisa saja perkembangan anak kurang bagus. Ketika ia tidak punya banyak teman, suatu saat nanti ia akan merasa sendiri.

  1. Prestasi Rendah
Anak yang hiperaktif kemungkinan besar mengalami masalah dalam hal bersosialisasi dengan teman-temannya. Namun, ada hal lain yang juga tak kalah mengkhawatirkan. Ia cenderung kurang pintar ketika sekolah. Bahkan, terkadang guru mengeluh karena anak sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada obedience atau kepatuhan. Anak yang taat dengan apa yang diperintahkan guru, maka anak dianggap baik dan cerdas. Sementara itu, anak yang mengalami ADHD sulit untuk fokus dan berkonsentrasi di kelas layaknya kebanyakan anak normal lainnya.

Makanya, biasanya solusi yang terbaik adalah home-schooling. Dengan demikian, anak bisa mengembangkan potensi sesuai dengan karakternya sendiri, bukan berdasarkan standarisasi kebanyakan sekolah formal.

Setidaknya dua hal tersebut yang perlu dikhawatirkan, yaitu masalah sosial dan juga masalah kecerdasan. Apakah itu tidak bisa antisipasi atau apakah anak yang mengalami hiperaktif tidak bisa disembuhkan? Tentu saja bisa. Namun, jangan asal mencari cara mengatasi anak hiperaktif. Sebaiknya bunda cari tahu dulu apakah benar anak bunda hiperaktif. Atau jangan-jangan hanya super aktif saja. Dalam hal ini, bunda harus bedakan antara anak aktif dengan anak hiperaktif.
Energi Harus Tersalurkan  
Ada banyak sekali cara untuk mengatasi anak yang hiperktif. Terapi yang paling sering dipilih oleh orang tua dengan anak yang mengalami masalah tersebut.
Akan tetapi, mengandalkan terapi dengan pakar sekalipun itu tidak cukup. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, banyak ahli mengatakan bahwa anak yang hiperaktif itu memiliki energi yang lebih dan ia butuh menyalurkan energi tersebut. Dan ini kuncinya.
Jika bunda punya anak yang mengalami masalah hiperaktif, kenapa bunda tidak coba alihkan tenaganya untuk hal yang tepat? Misalnya saja mengajak anak untuk berolahraga, main bola, main badminton, berenang, dan lain sebagainya. Ini jauh lebih baik karena selain mengatasi hiperaktif bunda juga membantu anak untuk mengasah bakatnya. Tentu saja aktivitas yang bunda pilihkan harus sesuai dengan bakat atau potensi anak.
Jadi, jika dilihat dari persepektif yang lain, hiperaktif ini adalah anugrah. Bunda bisa lebih mudah mengajak anak untuk mengasah kemampuan atau bakatnya. Berbeda jika anak biasa yang terkadang tidak punya cukup energi untuk terus belajar. Oleh sebab itu, bunda harus bisa menfaatkan kondisi anak seperti itu.
Selain itu, hal ini juga seharusnya membuka pemahaman bunda mengenai pendidikan. Selama ini, pendidikan yang baik diidentikkan dengan nilai raport yang tinggi di sekolah. Aspek skill yang dikuasai serta potensi unggul tidak begitu diperhatikan. Padalah, setiap anak itu dianugrahi dengan bakat dari Tuhan. Tinggal bagaimana orang tua, guru, dan pihak-pihak lain menemukan dan mengasah bakat tersebut.
Makanya, anak hiperaktif sangat disarankan untuk home-schooling. Ada beberapa alasan mengapa itu pilihan yang terbaik. Pertama, anak tersebut sulit untuk diterima atau berkembang di sekolah biasa. Bahkan, anak tersebut cenderung tidak bisa berkembang karena merasa beda. Dan treatment yang diberikan oleh sekolah juga kurang tepat untuk anak dengan kondisi semacam itu.
Selain itu, home-schooling juga sebagai saranan untuk mengasah potensi di dalam diri anak. Jadi, sejak kecil, bunda sudah fokus untuk mencari dan mengasah potensi anak. Bukankah ini jauh lebih baik daripada meminta anak mempelajari banyak hal tapi tidak menjadi ahli di bidang apapun?
Pada akhirnya, siapapun tidak boleh menganggap anak hiperaktif sebagai anak yang tidak normal. Apalagi jika ada anggapan hiperkatif itu penyakit. Jelas salah besar. Dan bunda sekarang sudah tahu bagaimana cara penanganan anak dengan kondisi seperti itu.

Monday, August 6, 2018

Bunda Harus Bisa Bedakan Anak Yang Hiperaktif dan Aktif



Banyak orang tua yang langsung mencari cara mengatasi anak hiperaktif ketika mereka merasa ada tanda bahwa si kecil mengalami masalah tersebut. Sayangnya, itu hanya perasaan mereka saja. Mereka hanya tahu sekilas saja. Ketika anak sangat aktif, tidak seperti kebanyakan anak yang waktu main mereka main waktu istirahat mereka istirahat, orang tua langsung membuat kesimpuan bahwa anaknya mengalami hiperaktif.
Ini yang bahaya. Banyak orang tua yang langsung membuat kesimpulan tanpa berkonsultasi dengan pakar perkembangan anak. Kalau mereka punya background pendidikan psikologi anak, tentu tidak masalah. Namun, jika kesimpulan tersebut berdasarkan tebakan-tebakan saja, ini bisa sangat berbahaya.
Bagaimanapun juga, stigma yang melekat pada anak akan membuat orang tua melakukan sesuatu sesuai dengan stigma tersebut. Contoh sederhananya saja seperti ini. Ketika anak dianggap “nakal” atau “susah diatur”, maka orang tua akan melakukan pengasuhan yang lebih keras. Padahal, belum tentu juga anak itu nakal dan susah diatur. Hal yang sama pada anak yang dianggap hiperaktif. Orang tua langsung mencari info mengenai cara menyembuhkan anak hiperaktif dan langsung mempraktikkannya. Padahal, belum tentu anak tersebut hiperaktif.
Maka dari itu, bunda sebagai orang tua sebaiknya konsultasi dengan ahlinya. Dan ini tidak hanya untuk kasus anak yang kelihatannya hiperaktif padahal hanya aktif saja. Konsultasi juga perlu dilakukan untuk kasus-kasus lainnya.
Beda Tipis Antara Anak Aktif dan Hiperaktif
Sebelum lebih jauh membahasa mengenal bagaimana cara mengatasi anak yang hiperaktif, bunda harus bisa membedakan dulu antara anak aktif dan anak hiperaktif. Memang perbedaanya sangat tipis. Namun, tetap saja ada bedanya.
  • Anak Aktif Suka Terhadap Sesuatu Tapi Tidak Mudah Bosan
Jika bunda sudah pernah lihat anak hiperaktif, bunda pasti tahu anak tersebut sangat suka dengan hal tertentu. Misalnya saja suka dengan permainan mobil-mobilan. Maka ia akan langsung aktif memainkan mobil-mobilan tersebut. Mungkin ia akan membawa atau mendorong mainan tersebut ke seluruh pojok ruangan.
Ini juga sama yang dilakukan oleh anak yang aktif. Kalau ia mendapatkan mainan yang ia sangat sukai, bisa saja anak tersebut lupa makan dan lupa tidur. Ia akan main terus.
Namun, perbedaannya satu. Anak yang aktif suka dan tidak mudah bosan. Sementara itu, anak hiperaktif suka tapi mudah bosan. Setelah beberapa menit memainkan mainan tersebut, ia langsung meninggalkan mainan tersebut atau bahkan membuangnya. Dan terkadang ia akan suka dan memainkan mainan tersebut di kemudian hari lalu meninggalkan mainan. Rasa suka anak hiperaktif ini dibarengi dengan mudahnya bosan.
  • Sulit Punya Teman
Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya lebih aktif daripada anak-anak yang lain. Mereka khawatir jika anak tidak bisa membaur dengan temannya. Atau teman-teman tidak bisa mengikuti keatifkan anak tersebut.
Sebenarnya, hal tersebut itu tidak perlu dikhawatirkan. Yang perlu dikhawatirkan itu ketika anak hiperaktif. Pasalnya, anak hiperaktif memang bisa berteman tapi lebih egois. Ia tidak mau kalah dalam hal apapun. Akhirnya teman-temannya menjadi kurang suka untuk bermain dengan anak hiperaktif tersebut.
  • Mood Swing
Ini istilah yang terkait dengan kesehatan ibu hamil. Namun, bisa juga digunakan untuk menggambarkan tumbuh kembang anak yang mengalami hiperaktif. Mood swing artinya mood yang sering berubah-ubah. Atau bisa dikatakan anak mudah sekali emosi. Nah ini juga termasuk tanda-tanda anak hiperaktif.
Beda dengan anak yang aktif. Meskipun ia lebih aktif daripada teman kelompok bermainnya, anak tersebut tetap bisa bersabar. Ia bisa mengalah dan memahami kondisi teman-teman yang lain.
Nah, jadi beda ya bunda antara anak yang aktif dan anak hiperaktif. Jangan hanya membuat kesimpulan dari bagaimana keaktifan anak. Justru saat anak aktif, itu bagus untuk tumbuh kembangnya. Yang harus diperhatikan adalah jika muncul tanda-tanda tersebut di atas.
Penangangan Anak Hiperaktif
Apa yang harus bunda lakukan jika ternyata si kecil benar-benar hiperaktif? Bunda tenang saja. Pada intinya, peran bunda lah yang penting dalam menerapkan cara mengatasi anak hiperaktif. Awalnya, bunda memang butuh untuk berkonsultasi dengan pakar perkembangan anak. Namun, keberhasilan ditentukan oleh bunda sendiri sebagai orang tua.
Ada tiga kunci penting untuk mengatasi anak hiperaktif; yaitu sikap yang tegas, konsisten, logis. Sikap yang tegas ini bukan mudah marah. Bunda harus tegas kepada anak tapi tidak boleh dilakukan dengan cara memarahinya.
Ketegasan tersebut harus dilakukan terus menerus. Ini bisa dikatakan terapi yang harus dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, anak akan ter ­set up sehingga tidak lagi mengalami hiperaktif. Dan yang sangat menentukan adalah logis. Anak yang hiperakif tidak bisa diberitahu layaknya anak lain. Meskipun masih balita, anak hiperaktif berpikir lebih logis. Dengan demikian, apapun yang bunda larang atau perintahkan, bunda harus jelaskan secara logis.
Meskipun demikian, bunda tetap butuh konsultasi dengan pakarnya. Bunda juga perlu meng upgrade terus menerus mengenai parenting terutama yang berkaitan dengan aktivitas yang baik untuk menunjang perkembangan anak.
Bunda sekarang sudah tahu mengenai perbedaan antara anak aktif dan hiperakif. Jangan sampai informasi ini hanya berhenti di bunda saja. Bagikan informasi ini kepada orang-orang tua lain yang mungkin masih memiliki anggapan yang salah mengenai anak hiperakif ini. Dan semoga saja orang tua yang punya anak hiperaktif tahu bagaimana cara mengatasi anak hiperaktif yang tepat.