Monday, November 26, 2018

Inilah Penyebab Sekaligus Tanda Anak Hiperaktif


Memahami tanda anak hiperaktif itu penting bagi bunda. Pemahaman atas prilaku anak
sejak awal akan memudahkan bunda dalam menentukan langkah yang bisa bunda ambil.
Keputusan ini akan membuat anak bisa tumbuh secara normal kedepannya.
Hiperaktif adalah sebuah masalah. Hiperaktif bisa mengakibatkan anak dijauhi oleh teman
sebayanya. Jika dibawa sampai dewasa, anak memiliki kecenderungan menyendiri, dijauhi
temannya, dan kesulitan untuk meraih impiannya.
Kesulitan untuk sukses ini dilatarbelakangi oleh prilakunya sendiri seperti agresif dan sulit
ditenangkan. Akibatnya, anak akan sulit menerima pelajaran saat di bangku sekolahan, serta
tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang layak ketika dewasa.
Bagi bunda yang saat ini memiliki anak hiperaktif, bunda tidak perlu berkecil hati. Anak
seperti itu bisa ditangani. Hanya saja, bunda perlu menanganinya dengan penuh kesabaran
serta cepat.
Penanganan lebih cepat dimaksudkan untuk membuat masalah hiperaktif tidak meluas.
Dan bunda harusnya melihat masalah tersebut sejak awal. Jika tidak, penanganannya akan
sulit sehingga bunda butuh ekstra tenaga dan waktu untuk mengatasinya.
Di sini, kami ajak bunda untuk mengenali apa saja ciri-ciri anak hiperaktif. Selain itu,
bunda juga diajak untuk mengenali apa penyebabnya sehingga bunda tahu secara pasti
tentang penanganan yang tepat untuk anak tersebut. Oleh karenanya, ulasan ini cukup
bermanfaat bagi bunda.
Tandanya Anak Hiperaktif
Hiperaktif dianggap sebagai masalah lantaran anak tidak bisa mengontrol emosinya
dan konsentrasi. Ketidakmampuan anak dalam melakukan hal tersebut memungkinkan
prilakunya tidak terkontrol. Akibatnya, anak akan melakukan apapun yang kadang bisa
merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain.
Kondisi ini jelas tidak baik bagi kehidupannya. Karena selain bisa menyulitkan dalam
pembelajaran saat sekolah, anak juga akan kesulitan dalam meraih cita-citanya di dunia
pekerjaan. Maksudnya, anak memiliki minim prestasi di dunia kerja.
Tidak mau melihat anak kesulitan dalam menjalani kehidupannya, sudah semestinya
bunda melakukan penanganan secepatnya. Tapi sebelum mengambil keputusan tersebut,
pastikan jika anak memang mengalami masalah tersebut.
Untuk memastikannya, bunda perlu tahu ciri-cirinya. Nah, salah satu ciri khas anak yang
hiperaktif adalah tidak fokus pada satu hal. Ini bisa dilihat dari prilakunya di tiap harinya.
Bisa dicontohkan saat bermain. Anak hiperaktif tidak akan bertahan lama dengan mainannya.
Misalnya bila anak sedang bermain bola lalu melihat teman sebayanya memainkan mainan
lainnya, anak hiperaktif akan langsung pindah bermain seperti teman kebanyakan.
Intinya, anak tidak mampu menyelesaikan mainannya sendiri. Anak akan cenderung
beralih ke permainan lain secara spontan. Parahnya, anak hiperaktif bisa saja merebut
paksa mainan kawannya.
Selain itu, tanda anak hiperaktif lainnya adalah tidak bisa diam lebih dari 5 menitan.
Anak tersebut sangat aktif, tidak mudah lelah dan sulit untuk diajak bicara.
Keinginannya adalah melakukan hal-hal yang kadang di luar batas.
Malahan, anak tidak peduli jika ia sakit. Anak hanya akan menyesali prilakunya bila
telah selesai mengerjakan sesuatu yang keliru.
Selain tidak fokus dan sangat aktif, anak tersebut juga sangat agresif. Terkadang anak
bisa bicara sangat kasar, serta prilakunya cukup menakutkan bagi teman sebayanya.
Karena anak tersebut dengan leluasa untuk memukul, menendang dan lain sebagainya.
Prilaku seperti inilah yang membuat anak dijauhi oleh teman sebayanya. Jika ini terus
dilakukan, sudah pasti anak hiperaktif akan kehilangan banyak kesempatan untuk sukses
kedepannya. Karena anak tersebut tidak memiliki teman, apalagi mampu bekerjasama
dengan orang lain.
Penyebab Anak Hiperaktif
Anak yang hiperaktif sudah bisa dikenali sejak usianya 4 tahunnan. Usia tersebut sudah
cukup menunjukkan bahwa anak tersebut sedang bermasalah. Misalnya sulitnya menjaga
fokus serta sangat agresif.
Masalah hiperaktif ini tentu ada pemicunya. Pemicunya cukup banyak. Salah satunya adalah
adanya gangguan otak dan syaraf. Gangguan ini bisa muncul akibat kebutuhan nutrisi anak
tidak tercukupi sejak kecil. Tentu saja, gangguan ini bisa disebabkan oleh faktor lainnya.
Selain gangguan otak, penyebab hiperaktif adalah hipertiroidisme. Ini adalah kelainan hormon
yang ada di dalam tubuh anak. Kelainan ini memungkinkan anak bergerak sangat aktif, namun
tidak terkendali.
Penyebab lainnya adalah gangguan psikologis. Gangguan ini membuat anak terlihat depresi.
Akibatnya, anak melampiaskan segala sesuatunya dengan tindakan yang kadang merugikan.
Setelah bunda melihat tanda- tanda anak hiperaktif, langkah pertama yang bunda lakukan
adalah memberikan kenyamanan bagi anak. Jika tidak bisa ditenangkan, bunda bisa
memeriksakannya ke dokter.
Dari pemeriksaan dokter, dokter akan mengetahui secara pasti mengenai penyebab anak
melakukan tindakan tersebut. Dari penyebab inilah, dokter bisa melakukan penanganan
yang tepat.
Khusus untuk hiperaktif yang disebabkan oleh gangguan syaraf, otak, gangguan tirodi,
tentu penanganan yang tepat adalah dengan pengobatan. Pengobatan ini jelas membutuhkan
dokter. Dokterlah yang akan bertugas dalam memperbaiki masalah tersebut dengan metode
pengobatan yang sesuai.
Sementara bila hiperaktif disebabkan oleh gangguan psikologis, bunda butuh bantuan spesialis
kesehatan mental. Selain itu, pengobatan atau terapi kognitif juga diperlukan untuk melepaskan
masalah hiperaktif.
Selain memberikan pengobatan, dukungan dari bunda dan keluarga di sekitar anak juga sangat
diperlukan. Gunanya adalah untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman. Nyamannya situasi
di sekitar memungkinkan anak untuk tidak berprilaku di luar batas.
Intinya, selalu dampingi anak supaya tidak melakukan tindakan yang merugikannya.
Kemudian, motivasi anak untuk melakukan hal yang baik. Dengan cara demikian, lambat laun
hiperaktif yang dialami anak akan hilang dengan sendirinya.
Demikianlah ulasan mengenai anak hiperaktif. Sebagai orang tua, bunda harus terus
mendampingi dan mengajari anak. Jika muncul tanda anak hiperaktif, langsung saja berikan penanganan agar masalah tersebut bisa segera terselesaikan.

Tuesday, October 30, 2018

Inilah Yang Sebaiknya Dilakukan Pada Anak Yang Hiperaktif!


Penanganan anak hiperaktif harus dilakukan, mengingat anak tersebut cenderung tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Kurangnya penanganan akan membuat anak bisa melakukan hal-hal yang berbahaya. Malahan, bisa membuat sang anak dijauhi oleh teman sebayanya.
Jauhnya dari teman sebaya jelas berdampak buruk bagi kehidupan sosialnya. Pengaruh negatifnya adalah lebih senang menyendiri, tidak berkembang kemampuannya dan sulit untuk sukses di masa mendatang.
Tidak mau melihat anak kesulitan di kehidupannya, sudah semestinya bunda perlu bertindak lebih cepat. Penanganan wajib dilakukan sejak gejala hiperaktif muncul. Yang paling penting, bunda harus bersabar dalam menghadapinya.
Sekilas Mengenai Anak Hiperaktif
Anak hiperaktif biasanya mendapat cap dari orang di sekelilingnya sebagai anak nakal. Ini merujuk pada prilaku anak yang jauh dari kata wajar. Pasalnya, anak tidak bisa diam, banyak bicara, dan bertindak terlalu berlebihan.
Hiperaktif sendiri merupakan sebuah permasalahan pada perkembangan anak. Khususnya permasalahan pada daya kontrolnya. Anak tidak mampu memfokuskan diri pada suatu hal hal ini tentu berbeda dengan anak banyak gerak karena aktif.
Ketidakmampuan dalam menjaga fokus mengakibatkan anak sering melakukan hal yang tidak terkontrol. Lebih parahnya, hal-hal berbahaya kadang dilakukannya sehingga cukup mengkhawatirkan.
Meskipun begitu, anak yang hiperaktif ini cukup potensial di dunianya. Anak seperti ini diklaim memiliki kecerdasan tinggi, dan didukung dengan kemauan untuk melakukan banyak hal tanpa merasa lelah. Ada emosi yang meletup-letup untuk melakukan suatu tindakan.
Ketika bunda mampu menanganinya, bukan tak mungkin jika anak akan lebih sukses ke depannya. Kuncinya adalah mendidiknya dengan benar, dan terus mendampinginya agar emosinya bisa dikontrol.
Penyebab Anak Menjadi Hiperaktif
Ciri anak hiperaktif ditandai dengan tidak mau diamnya anak dalam waktu yang lama. Rata-rata anak akan beraktifitas secara berlebihan, mengambil tindakan tanpa memikirkan akibat yang akan didapatkannya.
Tentunya, ini disebabkan oleh kurangnya anak dalam mengontrol diri. Kurangnya kontrol akan dirinya bisa merugikan diri sendiri. Misalnya anak akan terluka dalam beraktifitas.
Penyebab utama anak menjadi hiperaktif ini salah satunya berasal dari gangguan ADHD (Attention Deficit and Hiperactivity Disorder). Maksudnya adalah adanya gangguan perkembangan pada peningkatan sistem motorik.
Gangguan inilah yang menjadi pemicu aktifitas berlebihan pada anak. Aktifitasnya terkadang lebih agresif. Tidak heran jika bunda akan kewalahan dalam menghadapinya.
Kondisi ini ditandai dengan berbagai hal. Diantaranya adalah mudah gelisah, sulit fokus, banyak bicara, tidak bisa diam dalam waktu yang lama, sampai emosinya terus meletup-letup.
Jika bunda melihat tanda-tanda tersebut pada diri anak, sebaiknya bunda segera memberikan penanganan. Penanganan ini harusnya disesuaikan dengan pemicu utamanya. Misalnya apakah keaktifan anak ini berasal dari ADHD atau dari masalah lainnya.
Cara Menangani Anak Yang Hiperaktif
Menyadari tindakan anak terlalu aktif, tentunya bunda harus memberikan pengawasan lebih besar. Pengawasan ini diharapkan bisa mencegah anak untuk melakukan hal-hal yang merugikannya sendiri.
Selain memberikan pengawasan secara intens, bunda juga perlu mengambil langkah nyata. Yakni memberikan penanganan anak hiperaktif yang tepat. Bagaimana caranya?
  • Menangani hiperaktif yang disebabkan ADHD
Pemeriksaan wajib dilakukan bunda. Pemeriksaan ini untuk memastikan apa penyebab sebenarnya. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa anak terdiagnosis ADHD, maka cara yang tepat adalah mengikuti saran dokter.
Normalnya, dokter akan memberikan resep obat khusus untuk menangani gangguan pada perkembangan motorik anak tersebut. Mengenai obatnya, tentu dokter adalah yang bertanggungjawab dan tahu betul mengenai apa yang diberikannya.
Selain resep obat, dokter biasanya akan memberikan terapi khusus untuk anak. Terapi ini dilakukan untuk membantu anak dalam menjaga prilakunya. Dan bunda dianjurkan untuk membawa anak sesuai jadwal terapi.
  • Menangani hiperaktif yang tidak disebabkan oleh ADHD
Ketika pemeriksaan menunjukkan bahwa anak tidak terdiagnosis ADHD, maka bunda bisa melakukan penanganan sendiri di rumah. Penanganan ini membutuhkan kesabaran ekstra, tapi akan berhasil bila dipraktekkan di tiap harinya.
Yang pertama adalah menjauhkan anak dari banyak gangguan. Hal kecil di sekitar anak hiperaktif bisa saja menjadikan anak teralihkan. Fokus anak ketika melakukan sesuatu yang Anda minta akan pudar, dan anak memilih untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan apa yang dilihatnya di sekitar.
Ketika bunda sedang mengajari anak akan sesuatu, buatlah suasana yang sangat nyaman bagi dirinya. Seminimal mungkin, jauhkan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatiannya. Dengan begitu, anak akan terlatih konsentrasinya pada satu hal.
Yang kedua adalah bantulah anak untuk mengatur aktifitas hariannya. Perlu disadari bahwa anak hiperaktif sangat mudah mengalami kecemasan. Kecemasannya ini tak lain dari kurang memahaminya anak dalam melakukan hal-hal di setiap waktunya.
Bunda disarankan untuk mengatur kegiatan hariannya. Yakni menunjukkan hal apa saja yang sebaiknya dilakukan di tiap harinya. Misalnya waktu sikat gigi, makan, bermain dan belajar.
Anak hiperaktif butuh aturan yang jelas. Dengan tahu aturannya, anak akan memahami apa yang sebaiknya dilakukan. Akhirnya, konsentrasinya terbentuk, dan kecemasan yang dialaminya tidak muncul.
Yang ketiga adalah dampingi anak lebih intens. Mendampinginya setiap saat wajib dilakukan. Karena anak akan merasa lebih nyaman sehingga tidak melakukan tindakan yang diluar batas.
Pendampingan ini bisa dilakukan ketika makan, bermain dan belajar. Kesemuanya wajib diawasi oleh bunda. Ketika anak melakukan hal yang positif, pujian bisa diberikan.
Sebaliknya bila melakukan tindakan yang kurang baik, bunda bisa menjelaskan bahwa kegiatannya kurang baik. Tapi pastikan untuk tidak membentak ataupun memarahinya. Karena memarahinya hanya akan membuat perasaan anak kacau, menyebabkannya lebih agresif.

Itulah bagaimana cara bunda memperlakukan anak yang hiperaktif. Bersabarlah dan terus motivasi anak untuk melakukan hal yang positif. Dengan begitu, bunda akan berhasil dalam hal penanganan anak hiperaktif ini. 

Thursday, October 25, 2018

Punya Anak Yang Super Aktif Hiperaktif. Apakah Ini Jadi Masalah?


Anak super aktif yang bukan hiperaktif sejatinya lebih unggul dibandingkan anak lainnya. Keaktifannya menunjukkan bahwa anak tersebut punya potensi besar di dalam dirinya. Oleh karenanya, bunda tidak perlu khawatir ketika si kecil begitu aktif di dalam aktifitasnya.
Melihat anak sangat aktif kadang membuat bunda bahagia. Namun begitu, kadang bunda juga akan merasa sebal karena tingkahnya yang terlihat berlebihan. Contohnya adalah anak tidak bisa diam, sering bergerak sekehendak hati.
Tindakan ini juga kadang tidak disukai oleh orang lain. Anak dicap sebagai anak nakal lantaran sulit untuk ditenangkan. Malahan, anak cenderung tidak mendengarkan apa yang diperintahkan.
Meskipun begitu, anak tersebut punya nilai plus dibandingkan anak sebayanya. Ketika ditangani dan diarahkan ke sesuatu yang lebih baik, anak akan menjadi sangat pintar di dunianya. Ketika dewasa, anak punya peluang sukses lebih besar dibandingkan teman-temannya.
Sekilas Mengenal Anak Super Aktif
Anak yang super aktif punya kecenderungan suka bergerak. Anak akan memanfaatkan tenaganya untuk melakukan hal-hal yang menarik perhatiannya. Dan anak ini tidak suka banyak bicara.
Kecenderungan ini kadang membuat orang di sekelilingnya menjulukinya sebagai troublemaker. Karena anak tidak bisa diam. Anak dianggap sebagai tukang onar yang bisa mempengaruhi anak-anak lainnya.
Namun harus digarisbawahi bahwa anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Anak suka mengeksplor lebih jauh tentang apa yang dipahaminya. Buahnya, anak akan mempraktekkan apa yang dipelajarinya/apa yang menarik perhatiannya.
Anak yang super aktif ini bukanlah anak yang mengalami masalah kesehatan. Anak seperti ini hanya kelebihan energi. Kelebihan energi inilah yang ditumpahkannya dengan melakukan berbagai kegiatan.
Ciri anak super aktif adalah anak suka dengan berbagai kegiatan. Anak punya kecenderungan untuk bergerak sesuai kehendaknya. Meskipun begitu, anak tersebut punya konsentrasi tinggi sehingga mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.
Ini tentu berkebalikan dengan anak yang hiperaktif. Anak yang super aktif di lingkungannya tidak bisa dikatakan sebagai hiperaktif. Tentunya jika melihat ciri-ciri yang diperlihatkannya di atas.
Tetapi bila anak tidak memiliki konsentrasi tinggi dan cenderung aktif, ini berarti anak bunda ada di dalam tahap hiperaktif. Anak yang hiperaktif memang sangat aktif bergerak, namun anak tidak memiliki konsentrasi tinggi. Kecenderungannya adalah melakukan gerakan berulang-ulang tanpa menunjukkan maksud yang ditujunya.
Contoh prilaku anak yang hiperaktif adalah membuka dan menutup pintu berulang-ulang tanpa maksud yang jelas. Selain itu, anak memiliki kecenderungan berpindah ke permainan satu ke permainan lainnya sebelum mampu menyelesaikannya.
Berbeda jika anak hanya super aktif. Anak seperti ini bisa menyelesaikan kegiatan bermaiannya. Baru setelah menyelesaikan permainannya, anak akan mencoba sesuatu yang lain yang dianggap lebih menarik.
Cara Mengatasi Anak Super Aktif
Anak yang super aktif bisa mempelajari sesuatu dengan sangat cepat. Bunda pastinya akan bangga melihat apa yang ditunjukkan buah hatinya. Bahkan, kepandaiannya ini melebihi anak-anak seumurannya.
Supaya anak bisa memanfaatkan kelebihan tenaganya ke kegiatan positif, ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan. Ini ditujukan untuk menangani anak yang tidak suka diam di lingkungannya.
  • Buatlah aturan bersama
Sebaiknya bunda harus membuat kesepakatan dengan anaknya. Kesepakatan ini berupa aturan-aturan yang wajib dilakukan oleh anak dan keluarga. Aturan seperti inilah yang bisa menenangkannya.
  • Libatkan anak dalam berbagai kegiatan harian
Keaktifan anak ini disebabkan oleh besarnya tenaga yang dimilikinya. Besarnya tenaga jelas membuat anak bisa melakukan berbagai hal. Hanya saja, kadang anak sesuka hati dalam melakukan aktifitasnya.
Akan lebih baik jika bunda memanfaatkan tenaga besarnya untuk membantu bunda. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah akan sangat membantu. Karena tenaga yang dimilikinya akan disalurkan untuk hal-hal yang positif di rumah.
Contohnya adalah melibatkan anak dalam merapikan mainannya. Atau, mengajak anak untuk bersih-bersih rumah. Yang terpenting, kegiatan tersebut menyenangkan dan menarik perhatiannya.
  • Arahkan ke kegiatan yang lebih kreatif
Anak super aktif memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Konsentrasinya juga sangat bagus. Tak mengherankan jika anak tersebut mampu berimajinasi tinggi, dan lebih kreatif.
Anak yang seperti ini bisa tenang ketika melakukan suatu kegiatan. Bahkan, anak bisa diam sampai berjam-jam lantaran fokus pada apa yang dilakukannya. Ini berkebalikan dengan anak hiperaktif yang tidak fokus.
Bunda bisa memfasilitasi anak dengan memberinya kesempatan untuk meningkatkan kreatifitasnya. Misalnya memasukkannya ke dalam kegiatan yang disukainya.
Hal yang disukainya bisa berupa melukis, olahraga tertentu, sampai bermusik. Semua kegiatan ini bisa dicoba. Cukup arahkan tenaga ekstranya untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat untuk masa depannya.
Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Bunda Pada Anak Super Aktif
Tindakan anak yang super aktif memang kadang membuat khawatir. Ada saja yang dilakukannya. Bisa saja tindakanya ke arah yang berbahaya.
Di sini, bunda disarankan untuk tidak memarahinya. Memarahinya hanya akan membuat hati anak terluka. Tenaga yang dimilikinya bisa saja disalurkan pada hal-hal yang tidak baik.
Akan lebih baik jika bunda menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukannya kurang baik. Lantas bunda memberikan opsi kegiatan yang baik untuk dilakukan. Di sinilah anak akan patuh, tenaga ekstranya akan dimanfaatkan untuk hal yang positif.
Selain memarahi, bunda juga sebaiknya tidak banyak memberikan perintah secara verbal atau larangan. Kecenderungan anak tersebut adalah tidak mendengarkan perintah. Anak akan terfokus pada hal yang ditujunya.
Sebaliknya berikan perintah atau larangan dengan bahasa tubuh. Misalnya dengan mencontohkan pada apa yang diperintahkan/dilarang. Dari sini, anak akan menaruh perhatian, dan belajar banyak dari apa yang dicontohkan.

Itulah bagaimana cara bunda memperlakukan anak yang super aktif. Arahkan ke kegiatan yang lebih positif, dan biarkan anak super aktif menyalurkan tenaga dan fikirannya pada hal tersebut. 

Wednesday, September 26, 2018

Apakah Anak Bunda Menderita Hiperaktif?


Anak-anak ada yang terlahir kalem. Mereka puas mewarnai atau bermain dengan balok berjam-jam. Sementara anak-anak bunda tampaknya tidak bisa duudk diam sekalipun hanya dua menit. Mereka seakan-akan gelisah, lompat ke sana ke mari, mengambil barang apapun yang menarik perhatiannya secepat mungkin dan memanjat apapun yang bisa dipanjat. Orang tua mungkin langsung mencap anak-anak ini menderita hiperaktif dan buru-buru menemukan cara menghadapi anak hiperaktif. Namun mungkin ada udang di balik batu bila anak-anak bunda mendadak hiperaktif. Simak yuk penjelasannya.
  1. Stress
Kadang-kadang perubahan jadwal dalam hidup bisa membuat si kecil hiperaktif karena mereka mendapatkan pengalaman yang membuat mereka stress. Sekalipun perubahan tersebut bisa bersifat positif seperti memiliki adik baru, pindah ke lingkungan baru yang lebih baik atau memasuki masa sekolah. Perubahan-perubahan ini bisa menciptakan stress pada anak.

Selain itu, anak-anak juga bisa merasakan stress orang tua sekalipun mereka tidak kena mengalami problem finansial atau hubungan. Jadi bunda bisa mengecek kondisi stress bunda dan pasangan bila bunda melihat si kecil mendadak hiperaktif.
  1. Masalah kejiwaan
Masalah kejiwaan pada anak sering terlihat dalam bentuk kelakuan yang tidak wajar. Anak-anak yang gampang cemas cenderung kesulitan untuk duduk diam. Atau anak-anak yang trauma karena suatu kejadian menakutkan akan kesulitan untuk konsentrasi. Nah, bila bunda mencurigai karakter anak bunda yang hipersensitf berasal dari masalah kejiwaan, bunda bisa menghubungi psikolog.Pengobatan para ahli ini akan mengurangi gejala-gejalan sakitnya si kecil termasuk hiperaktif.
  1. Kesalahan Pola Makan
Sebuah penelitian menyebutkan gula bukanlah penyebab hiperaktif. Beberapa ahli percaya beberapa penyedap rasa bisa membuat anak jadi hiperaktif. Studi-studi tentang makanan juga menemukan bahan pengawet dan pewarna bisa membuat anak jadi hiperaktif.

Bila bunda berpikir pola makan anak mempengaruhi karakter anak, bunda bisa menghubungi dan konsultasi pada dokter anak. Dokter bisa memberikan cara-cara untuk menemukan ketidakcocokan dan sensitifitas anak pada makanan sehingga menyebabkan tingkah laku yang mengganggu.
  1. Masalah kesehatan
Kondisi kesehatan fisik anak juga bisa menyebabkan hiperaktif. Contoh anak yang memiliki kadar tiroid yang tinggi. Anak-anak ini cenderung menjadi anak yang gampang cemas hingga hiperaktif. Bunda bisa konsultasi ke dokter anak mengenai gejala-gejala yang bunda lihat ada pada si kecil. Bunda juga sebaiknya mencatat kejanggalan-kejanggalan yang bisa bunda sampaikan lebih lanjut
  1. Kurang berolahraga
Anak-anak harusnya aktif dan energetik. Tanpa olahraga yang cukup, mereka akan kesulitan untuk duduk diam. Sayangnya, banyak anak-anak hiperaktif dihukum dengan dicabut jam istirahatnya di sekolah. Padahal kurangnya kesempatan berlari dan bermain akan membuat kondisi hiperaktif semakin parah.

Bunda bisa membantu si kecil dengan mengarahkan dia berolahraga setiap hari. Bawalah si kecil ke lapangan atau teman dekat rumah untuk bermain bola, ayunan atau bersepeda untuk menyalrkan energinya ke kegiatan-kegiatan produktif.
  1. Terlalu capek
Bila orang tua cenderung lemas ketika mereka kecapekan, anak-anak lebih sering menjadi hiperaktif. Bunda bisa perhatikan, anak-anak yang tidak tidur siang atau telat tidur, mereka memiliki tingkah laku yang agak ajaib. Jadi bunda perlu pastikan dia tidur cukup agar dia tidak hiperaktif.

Dari informasi di atas, apakah bunda masih khawatir anak bunda hiperaktif? Bila iya, bunda bisa melakukan konsultasi ke dokter. Nah, seperti yang bunda ketahui, anak hiperaktif membutuhkan perlakukan khusus. Bunda bisa membaca artikel yang satu ini Cara Mengatasi Anak Hiperaktif agar bisa mengasuh si kecil dengan tepat. Tidak ada anak yang nakal di dunia ini, mereka hanya membutuhkan orang tua yang mengerti mereka.


Thursday, August 30, 2018

Mengubah Anak Hiperaktif menjadi Anak Kreatif

Bunda pasti menyadari kalau anak-anak hiperaktif sangat gelisah. Mereka cepat bosan dengan rutinitas dibanding anak-anak lainnya. Dan sayangnya kriteria “mudah bosan” ini seringkali tidak ditulis sebagai diagnosa mereka. Tampak negatif, namun sisi bosan pada anak-anak berarti dia sangat mudah tertarik pada hal-hal baru dan menarik. Rasa penasaran ini adalah sebuah komponen utama anak kreatif. Salah satu kemampuan yang telah membantu masyarakat berkembang. Jadi kita perlu menumbuhkannya. 

Namun bagaimana orang tua melakukannya? Inilah cara mengatasi anak hiperaktif dengan menjadikan mereka kreatif.

Seperti sebuah bola-bola energi yang tidak pernah lelah, kita perlu bertanya, kemanakah energi ini dilepaskan? Apakah energi ini disalurkan ke dalam tindakan-tindakan yang tidak sopan, gelisah atau cemas? Atau tersalurkan dalam kebiasaan-kebiasaan yang kreatif. Yuk bunda mari kita mengeluarkan sisi kreatif si kecil.

1. Bertanya pertanyaan yang menarik. Contoh: ketika bel rumah berbunyi, bunda bisa menanyakan sistem kerja bel di rumah ke si kecil. Saat belajar pelajaran di sekolah, bunda bisa menanyakan apa yang terjadi bila Indonesia tidak merdeka. Ingat ya bunda, jangan langsung memberikan jawaban, izinkan mereka menggunakan imajinasinya dan menghargai perspektif mereka.
2. Menggunakan sistem belajar dari proyek. Bunda bisa memberikan berbagai proyek spesial untuk anak. Misalkan memasak spaghetti untuk keluarga, menelusuri sejarah bulu tangkis di Indonesia, atau melakukan riset genre film kesukaan anak-anak di kelas.
3. Melakukan sesuatu yang baru dan tak terduga. Anak yang kreatif belajar dari bunda yang kreatif. Di hari Minggu, bunda bisa mengenakan kostum-kostum profesi untuk mengajarkan berbagai profesi kepada anak. Dijamin mereka bakal penasaran setiap minggunya.
4. Membawa ke rumah segala penemuan bunda. Saat bertemu dengan si kecil, bunda bisa memegang sesuatu yang baru di luar rumah seperti bulu burung, batu yang cantik, daun dan lain-lain. Setiap penemuan ini akan membantu si kecil untuk fokus. Setelah itu tanyakan ke dia, kira-kira di mana bunda mendapatkannya, bulu binatang apakah ini, jenis-jenis batu dan sebagainya. Arahkan dia untuk cari tahu lebih lanjut lewat buku atau internet yang aman untuk anak-anak.
5. Berakting. Temukan sebuah cara untuk dramatis agar membuka sisi kreatif dari anak hiperaktif. Bunda bisa berakting memerankan tokoh dalam novel si kecil atau cerita kartun kesayangannya.
6. Mengaktifkan imajinasi. Minta si kecil untuk menutup mata dan membayangkan sesuatu yang berkaitan dengan peernya. Kegiatan ini akan membuka dimensi kreatif anak. Misalkan, ajarkan mereka untuk membayangkan luar angkasa ketika belajar tentang tata surya, membayangkan suasana novel favorit mereka dan kalau bisa menggambarkannya. Segala sesuatu ini akan membantu si kecil belajar tentang konsep.

Dari semua tips ini, bunda cuman perlu mengingat untuk melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Sesuatu yang bisa menghancurkan rutinitas di rumah atau kegiatan belajar anak untuk mendapatkan perhatian mereka. Kita tidak bisa menyalahkan segala sesuatu yang cepat seperti film kartun di TV atau video game untuk mendapatkan fokus mereka sekarang. Yang paling penting adalah bunda itu “hidup” dan bisa interaktif di mana benda-benda lainnya tidak. Lagipula tv atau video game tidak tertarik untuk membuat si kecil lebih kreatif. Jadi, bundalah yang memiliki tanggung jawab untuk membuat si kecil kreatif dan membuat mereka menjadi anak yang berguna bagi masyarakat.
Sekian cara mengatasi anak hiperaktif untuk menjadikan dia anak kreatif. Semoga berguna bagi bunda.


Sunday, August 12, 2018

Hal Yang Perlu Dikhawatirkan Jika Punya Anak Hiperaktif



Apakah anak hiperaktif itu harus disembuhkan? Tentu saja. Namun, jangan dianggap ini adalah penyakit. Ini hanya perilaku yang tidak normal saja. Dan itupun bisa dijelaskan secara ilmiah.
Para ahli kesehatan anak menjelaskan bahwasannya anak yang hiperaktif itu disebabkan kelebihan energi di dalam tubuh. Dan butuh penyaluran energi dengan cara aktif. Yang terjadi adalah anak tersebut lebih aktif daripada kebanyakan anak lainnya.
Akan tetapi, ada juga faktor lain. Ini ditemukan oleh para peneliti kesehatan anak lainnya. Hingga akhirnya ada istilah ADHD yang merupakan kepanjangan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Jadi ini merupakan gangguan hiperaktif yang membuat anak sulit konsentrasi. Makanya, gangguan ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Banyak faktor yang mempengaruhi.
Hal Negatif Yang Sering Terjadi Pada Anak Hiperaktif
Sebenarnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika ada anak yang hiperaktif. Hanya saja, karena ia beda dengan kebanyakan teman lainnya, biasanya anak tersebut mengalami masalah dalam hal pergaulan.
  1. Tidak Mau Mengalah
Dalam berinteraksi sosial dengan teman-teman yang lain, anak harus toleran. Makanya, bunda sebagai orang tua harus memberikan pelajaran mengenai toleransi. Jangan mudah marah dengan teman yang lain. Biarkan anak lain berbuat apapun asalkan anak tidak boleh mengganggu. Berbeda dengan anak lain boleh tapi tidak boleh menyakiti. Itulah sikap toleran.

Sayangnya, anak yang hiperaktif yang hiperaktif sulit sekali untuk toleran. Saat bermain, ia ingin selalu menang. Anak tersebut cenderung egois. Dan ini menjadi satu dari sekian banyak tanda-tanda anak hiperaktif.

Karena anak tidak mau mengalah, bisa saja teman-teman tidak suka. Sehingga akhirnya mereka tidak mau berteman dengan anak tersebut. Ini yang berbahaya. Karena jika ini terus terjadi, bisa saja perkembangan anak kurang bagus. Ketika ia tidak punya banyak teman, suatu saat nanti ia akan merasa sendiri.

  1. Prestasi Rendah
Anak yang hiperaktif kemungkinan besar mengalami masalah dalam hal bersosialisasi dengan teman-temannya. Namun, ada hal lain yang juga tak kalah mengkhawatirkan. Ia cenderung kurang pintar ketika sekolah. Bahkan, terkadang guru mengeluh karena anak sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada obedience atau kepatuhan. Anak yang taat dengan apa yang diperintahkan guru, maka anak dianggap baik dan cerdas. Sementara itu, anak yang mengalami ADHD sulit untuk fokus dan berkonsentrasi di kelas layaknya kebanyakan anak normal lainnya.

Makanya, biasanya solusi yang terbaik adalah home-schooling. Dengan demikian, anak bisa mengembangkan potensi sesuai dengan karakternya sendiri, bukan berdasarkan standarisasi kebanyakan sekolah formal.

Setidaknya dua hal tersebut yang perlu dikhawatirkan, yaitu masalah sosial dan juga masalah kecerdasan. Apakah itu tidak bisa antisipasi atau apakah anak yang mengalami hiperaktif tidak bisa disembuhkan? Tentu saja bisa. Namun, jangan asal mencari cara mengatasi anak hiperaktif. Sebaiknya bunda cari tahu dulu apakah benar anak bunda hiperaktif. Atau jangan-jangan hanya super aktif saja. Dalam hal ini, bunda harus bedakan antara anak aktif dengan anak hiperaktif.
Energi Harus Tersalurkan  
Ada banyak sekali cara untuk mengatasi anak yang hiperktif. Terapi yang paling sering dipilih oleh orang tua dengan anak yang mengalami masalah tersebut.
Akan tetapi, mengandalkan terapi dengan pakar sekalipun itu tidak cukup. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, banyak ahli mengatakan bahwa anak yang hiperaktif itu memiliki energi yang lebih dan ia butuh menyalurkan energi tersebut. Dan ini kuncinya.
Jika bunda punya anak yang mengalami masalah hiperaktif, kenapa bunda tidak coba alihkan tenaganya untuk hal yang tepat? Misalnya saja mengajak anak untuk berolahraga, main bola, main badminton, berenang, dan lain sebagainya. Ini jauh lebih baik karena selain mengatasi hiperaktif bunda juga membantu anak untuk mengasah bakatnya. Tentu saja aktivitas yang bunda pilihkan harus sesuai dengan bakat atau potensi anak.
Jadi, jika dilihat dari persepektif yang lain, hiperaktif ini adalah anugrah. Bunda bisa lebih mudah mengajak anak untuk mengasah kemampuan atau bakatnya. Berbeda jika anak biasa yang terkadang tidak punya cukup energi untuk terus belajar. Oleh sebab itu, bunda harus bisa menfaatkan kondisi anak seperti itu.
Selain itu, hal ini juga seharusnya membuka pemahaman bunda mengenai pendidikan. Selama ini, pendidikan yang baik diidentikkan dengan nilai raport yang tinggi di sekolah. Aspek skill yang dikuasai serta potensi unggul tidak begitu diperhatikan. Padalah, setiap anak itu dianugrahi dengan bakat dari Tuhan. Tinggal bagaimana orang tua, guru, dan pihak-pihak lain menemukan dan mengasah bakat tersebut.
Makanya, anak hiperaktif sangat disarankan untuk home-schooling. Ada beberapa alasan mengapa itu pilihan yang terbaik. Pertama, anak tersebut sulit untuk diterima atau berkembang di sekolah biasa. Bahkan, anak tersebut cenderung tidak bisa berkembang karena merasa beda. Dan treatment yang diberikan oleh sekolah juga kurang tepat untuk anak dengan kondisi semacam itu.
Selain itu, home-schooling juga sebagai saranan untuk mengasah potensi di dalam diri anak. Jadi, sejak kecil, bunda sudah fokus untuk mencari dan mengasah potensi anak. Bukankah ini jauh lebih baik daripada meminta anak mempelajari banyak hal tapi tidak menjadi ahli di bidang apapun?
Pada akhirnya, siapapun tidak boleh menganggap anak hiperaktif sebagai anak yang tidak normal. Apalagi jika ada anggapan hiperkatif itu penyakit. Jelas salah besar. Dan bunda sekarang sudah tahu bagaimana cara penanganan anak dengan kondisi seperti itu.